Cahaya pagi menyinari meja dapur tempat pemuda itu berdiri gemetar, tangan ibu tirinya masih mencengkeram alat kelaminnya yang berdenyut saat gelombang ekstasi melanda tubuh remaja itu. Matanya terpejam saat cairan kental berwarna putih menyembur ke udara, mendarat dalam genangan lengket di lantai keramik yang bersih. Intensitas terlarang dari pertemuan itu masih membakar pembuluh darahnya saat ia terengah-engah, bersandar di lemari es sementara ibu tirinya memperhatikan dengan rasa lapar yang puas, jari-jarinya menelusuri pola di bukti klimaks yang eksplosif, klimaks di meja dapur, pelepasan eksplosif anak tirinya.